Saturday, March 30, 2019

Kamu Harus Tahu Guru Mendapat Banyak Ilmu saat Mengikuti Pelatihan di Luar Negeri

Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan (Kemendikbud) udah berkirim 1. 000 guru ke luar negeri buat kursus sepanjang tiga minggu. Saat ini mereka udah pulang dengan membawa banyak pengalaman.

Satu diantara peserta kursus, Ikhwansyah sebagai Guru TIK asal SMA Negeri 1 Padang mengemukakan, dia serta 20 mitranya memperoleh materi Vocational Teacher Training On Coding Keterampilan di Amity University, Noida, India.

Artikel Terkait : belajar bahasa pemrograman
“Yang kami peroleh amat banyak, terlebih di sektor IT yg sangatlah sangat cepat di India. Kami menyaksikan mengapa mereka dapat maju, merupakan prinsip-prinsip TIK (Technologi Kabar serta Komunikasi) ini memang suatu kepentingan yg sangatlah butuh ditanamkan sejak umur awal terhadap anak do sekolah, dimulai dari SD, SMP, SMA, ” ujarnya.

“Para siswa udah dikasihkan materi basic coding atau bahasa pemrograman di mana dengan wawasan coding kedepannya siswa tambah lebih ringan untuk jadi seseorang pakar di sektor IT terlebih programmer, ” makin Ikhwansyah disaat dijumpai di celah acara Menyongsong Pulangnya 1. 000 Guru di Hotel Millenium Jakarta, Senin (25/3/2019) .

Ia memberi tambahan kalau pada prinsipnya mereka bikin sebuah coding hingga kelak mereka dapat bikin penerapan yg mereka perlukan serta mengharapkan Indonesia dapat seperti India jadi penghasil software yg berfaedah.



“Karena perusahaan yg kami singgahi (di India) , mereka udah bisa sebagai penghasil software serta itu dimanfaatkan di negara beda seperti Amerika. Sesaat di Indonesia cuma untuk user atau pemakai saja. Serta yg ke dua dari sisi bahasa, mereka sudahlah biasa belajar bahasa Inggris sejak mulai kecil atau Paud, ” ujar Ikhwansyah.

Dia bakal berbagi pengetahuan yg dia peroleh di sekolah. “Nantinya yg saya bakal tularkan di sekolah ialah menempatkan apa yg udah saya peroleh d India berkenaan IT ini. Sekurang-kurangnya di sekolah tempat yg saya tularkan, kelak baru kita imbaskan ke kawan-kawan lewat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) baik kota atau propinsi, ” paparnya.

Ikhwan mengharapkan biar kedepannya anak didiknya dapat disediakan buat bisa beradu dalam perubahan technologi. Dikarenakan apabila udah ketinggal, kedepannya Indonesia cuma untuk user atau pemakai saja.
Simak Juga : topologi jaringan adalah

Tidak cuman Ikhwansyah, juga ada Guru Ekonomi SMA Negeri 2 Boyolali, Ismawanto yg memperoleh kursus di The University Of Queesland Australia. Menurut dia lingkungan serta kehidupan disana tertib rapi. Lantas tertata dan punyai kedisiplinan yg menakjubkan.

Bahkan juga tak ada yg memanfaatkan gadget kala belajar, serta juga menghargai orang-orang baik di luar lingkungan sekolah atau di dalam sekolah. Dari segi pendidikan sudah tertib kebijakan-kebijakannya hingga guru, kepala sekolah, TU, serta siswa membawa pendidikan yg tinggi sekali.

“Setiap sekolah dikasihkan kebebasan buat peraturan semasing , namun prinsip buat sukses itu tinggi sekali dalam metode pendidikan. Segi evaluasi sangatlah aktif serta gairah baik guru dengan siswa. Disaat siswa ada soal langsung diselesaikan disana lantaran ada yg namanya dukungan teacher. Jadi ada dua guru satu jadi pendamping buat menanggulangi siswa yg kemungkinan ada ada masalah, ” kata Ismawanto.

Ia memberi tambahan kalau media serta prasarana Australia sangatlah komplet. Seluruhnya udah mnggunakan perabotan mutahir hingga sangatlah beri dukungan sekali di jaman revolusi industri 4. 0. Dan di luar belajar mengajar ada juga peningkatan kemampuan siswa sesuai sama minatnya semasing. Umpamanya ada siswa yg suka seni, ternak, pertanian, dll, maka dapat disasarkan oleh guru pembimbingnya.

Menurut perihal ini, Ismawanto mengharapkan biar cara pikir guru butuh ditambah kembali bahkan juga dirubah biar lebih baik buat selanjutnya. Dia bakal mengusahakan mengaplikasikan pengetahuan yg udah ia bisa.

“Hanya komitmenya saja yang wajib di kembangkan serta dimantapkan kembali biar semua guru itu mempunyai komitmen pada proses evaluasi. Ditambah lagi kita semuanya kan udah bisa sertifikasi, itukan dapat jadikan motivasi penambahan proses evaluasi di kelas, biar kedepannya anak-anak bisa tambah maju, ” ujarnya.

Sesaat Guru Kimia SMA Negeri 6 Padang, Vivi Wirni memperoleh kursus di China dengan obyek aktivitas STEM ICT, STEM (science, technology, engineering and mathematics) Information Communication Technology (ICT) yg bertempat di Jiangsu Normal University.

Di China, Vivi terima materi terkait bagaimana mengajar matematika, fisika, serta biologi yg tak monoton. “Di sana seperti lomba saja, presentasi dihadapan professor dengan menghadirkan video. Disaat saya tengah mengajar dalam kelas, disana kita sambil dianggap. Serta Alhamdulillah saya bisa animo The Bestnya, ” kata Vivi.

Vivi mengharapkan biar skema pelajaran guru di ubah alias bukan hanya menuturkan saja, namun sembari ajukan pertanyaan terhadap siswa. Bahkan juga berikan bab dengan hitungan waktu cepat biar siswa itu gairah apabila melakukan bab dengan waktu. “Dan jangan sempat menuding siswa yg tidak sempat baca dll, namun lihat dahulu gurunya apa ia udah membaca? Jadi rubahlah dahulu mindsetnya, ” ujarnya.

“Seperti saya membimbing siswa dengan memutar video, buktinya mereka nikmat sembari bernyanyi sebelum belajar. Perpaduan begitu nyata-nyatanya udah termasuk juga STEM ICT. Pelajarannya kimia namun ada seninya jadi mereka nggak jenuh, ” imbuhnya.

Tidak hanya itu disaat siswa kembali melakukan bab, guru tak bisa pelit berikan reward. Reward itu dapat berikan siswa pulpen.

Selian itu tak bisa membeda-bedakan siswa, namun seluruhnya mesti diperlakukan sama. “Seperti buat group paduan pada siswa yg cerdas dengan siswa yg kurang. Jadi belajar buat sportif serta untuk tidak egois kembali. Soal begitu jadi contoh sistem evaluasi dengan kawan sepantaran, ” katanya.

Seterusnya, pengiriman 1. 000 guru ke luar negeri bertunjuan menaikkan pengalaman tenaga didik dalam metode evaluasi di jaman Revolusi 4. 0. Kemendikbud menebar 1. 000 guru buat kursus di 12 negara, ialah ke China, India, Korea Selatan, Finlandia, Australia, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Hongkong, serta Belanda.

No comments:

Post a Comment